Rahmat adalah kasih
sayang Allah Swt yang tercurahkan kepada seluruh makhluk-Nya. Rahmat
terbagi menjadi dua: 1. Rahamat 'Amm yaitu Rahmat-Nya Swt yang
dianugrahkan kepada seluruh makhluk-Nya, tanpa kecuali, 2. Rahmat
Khashsh yaitu Rahmat-Nya yang dianugrahkan kepada Mukmin berupa iman
dalam hatinya, karena dengan iman Seorang mukmin mendapatkkan jaminan
keselamatan didunia dan akhirat. ada dua karakter yang melekat pada
Seorang mukmin, yaitu: pertama: tidak mempunyai rasa takut, dia sadar
betul bahwa segala yang terjadi pasti telah ada "sunanil-mahdud-Nya",
artinya segala sesuatu pasti ada hukum yang telah ditetapkan-Nya,
sehingga keberlangsungan hindup bagi makhluk-Nya berjalan dengan
dinamis, dari kepahaman "sunanil mahdud" Seorang Mukmin
dengan sendirinya dapat mengalahkana rasa takut, yang kedua:dia tidak
mempunyai rasa sedih, karena hidup dan kehidupannya telah dijamin
oleh Allah Swt. Allah Swt berfirman:
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan”. (Q.S: Al-Furqaan:63).
didalam ayat lain Allah Swt berfirman tentang jaminan bagi Seorang Mukmin:
“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Para Rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S: An-Nisaa’:152 ). ya'ni Seorang Mu'min tidak membeda-bedakan kedudukan para Nabi dan para Rasul, didalam menghormati, menta'ati dan mengambi pelajaran dari kisah mereka dan kaumnya, contoh lain Allah Swt memberikan Rahmat khusus kepada Mukmin adalah Allah Swt menganugrahkan cahaya iman didalam hatinya sehingga kegelapan hati yang berupa kegelisahan, keresahan, pesimis dan keraguan hilang dan sirna didalam hatinya kemudian dia menapaki hari penuh dengan senyum dan menjalani hidup penuh dengan kebahagiaan, Allah Swt berfirman didalam Al-Qur'an:
“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Q.S: Al-Ahzab:43)
surat az zumar ayat 53
قُلْ
يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا
عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ
رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ
الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah:
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka
sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah,
sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya
Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az-Zumar:
53)
Penjelasan
Ayat
قُلْ
“Katakanlah.”
Ini
perintah kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dan
umatnya yang mengemban dakwah dan menyeru umat manusia kepada
kebenaran. Mereka diperintah oleh Allah untuk mengatakan dan
menyampaikan kepada para hamba sebuah kalam-Nya yang suci:
يَا
عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى
أَنْفُسِهِمْ
“Wahai
hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri.”
Yaitu
hamba-hamba Allah subhanahu
wa ta’ala yang
telah berbuat dosa dan maksiat. Dikatakan sebagai orang yang
melampaui batas terhadap diri mereka sendiri karena orang yang
melakukan kemaksiatan pada hakekatnya telah menjerumuskan diri mereka
sendiri kepada jurang kebinasaan. Mereka telah berbuat zalim dan
aniaya terhadap dirinya sendiri.
Firman-Nya,
لَا
تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Janganlah
kalian berputus asa dari rahmat Allah.”
Sehingga
kalian tidak mengharap rahmat dan ampunan-Nya. Jangan sampai kalian
mengatakan, “Kesalahan-kesalahan kami sudah terlampau banyak,
dosa-dosa kami sudah sangat besar sehingga tidak mungkin Allah akan
mengampuni kami.” Atau ucapan semisal itu yang menunjukkan
keputusasaan dan rasa pesimis dari mendapatkan kasih sayang-Nya.
Sungguh sikap seperti ini justru akan semakin menumpuk dosa dan
melahirkan berbagai kejelekan, di antaranya:
Pertama,
sikap seperti ini akan menyebabkan seseorang terus-menerus berada
dalam jurang kemaksiatan. Ia tidak mau mengentaskan diri dan keluar
dari jurang yang membinasakan tersebut karena di hatinya sudah
tertanam bahwa Allah tidak akan mengampuni dosanya.
Kedua,
sikap seperti ini menunjukkan su’uzhan (buruk
sangka) dia terhadap Penciptanya, Dzat Yang Maha Pengasih dan
Penyayang. Ketahuilah bahwa di antara bentuk kasih sayang Allah
kepada hamba-Nya adalah pemberian ampunan kepada siapa saja yang
memohonnya.
Ketiga,
sikap berputus asa dari rahmat Allah subhanahu
wa ta’ala itu
merupakan sikap tercela, sebagaimana firman Allah ketika mengisahkan
perkataan Nabi Ibrahim ‘alaihis
salaam (artinya):
“Dia
(Nabi Ibrahim) berkata: Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat
Rabb-nya kecuali orang-orang yang sesat.” (Al-Hijr:
56)
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah
ditanya tentang perbuatan apa saja yang digolongkan dosa besar.
Beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam pun
menjawab, “Syirik
kepada Allah, berputus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari
adzab Allah.” (HR.
ath-Thabarani, al-Bazzar,
dan selainnya)
Firman-Nya,
إِنَّ
اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
“Sesungguhnya
Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
Allah
tidak akan menyia-nyiakan usaha hamba-Nya yang ingin bertaubat.
Sebesar dan sebanyak apapun dosa itu, Allah akan mengampuninya dengan
taubat.
Satu
masalah penting yang harus dipahami dengan benar. Sepintas, ayat ini
bertentangan dengan ayat yang lain (yang artinya), “Sesungguhnya
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala
dosa yang di bawah itu bagi barangsiapa yang
dikehendaki-Nya.” (An-Nisa’:
48).
Pada ayat ini, dengan tegas Allah menyatakan tidak akan mengampuni
dosa syirik.
Tidak
ada pertentangan sedikit pun di dalam Al-Qur`an antara ayat yang satu
dengan ayat yang lain. Ayat dalam surat An-Nisa’: 48 menerangkan
bahwa dosa syirik -yang merupakan dosa paling besar- tidak akan
diampuni oleh Allah jika pelakunya belum bertaubat darinya. Adapun
perbuatan yang tingkatan dosanya di bawah syirik, maka ini di bawah
kehendak Allah. Jika berkehendak, Allah akan mengampuninya, dan jika
tidak, maka dengan keadilan-Nya, pelakunya berhak mendapatkan adzab
dari Dzat Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana. Namun apabila pelaku
kesyirikan itu sudah bertaubat, maka sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya.
Dalam
sebuah hadits qudsi, Allah berfirman (artinya), “Wahai
anak Adam, kalau dosa-dosamu (sangat banyak) sampai mencapai awan di
langit, kemudian kamu meminta ampun kepada-Ku, pasti Aku akan
mengampunimu dan Aku tidak peduli. Sesungguhnya jika kamu
datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian kamu
datang menjumpai-Ku (ketika meninggal) dalam keadaan tidak
menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, maka Aku akan memberikan ampunan
sepenuh bumi.” (HR.
at-Tirmidzi)
Dipahami
dari hadits qudsi ini, bahwa Allah akan mengampuni dosa hamba-Nya
kalau si hamba itu tidak berbuat syirik. Berarti dosa syirik itu
tidak terampuni kalau pelakunya meninggal dalam keadaan belum
bertaubat darinya dan masih membawa dosa tersebut.
Jangan
Menganggap Remeh Dosa
Ketika
seseorang telah yakin bahwa Allah subhanahu
wa ta’ala pasti
mengampuni semua dosa, dan tidak boleh bagi seorang pun berputus asa
dari rahmat-Nya, maka jangan sampai terseret oleh tipu daya setan
yang lain, yaitu menganggap remeh perbuatan dosa sehingga menjadi
bermudah-mudahan dalam melakukannya. “Kan Allah Maha Pengampun,
gampang nanti tinggal taubat, beres…” Ini adalah
bisikan-bisikan setan yang terus dihembuskan ke dalam hati-hati
manusia.
Pembaca
yang dirahmati oleh Allah. Sungguh sekecil apapun perbuatan hamba,
baik ataupun buruk, akan tercatat di sisi Allah dan pelakunya akan
melihat akibat dari perbuatannya itu. Jangankan dosa besar, dosa
kecil pun kalau terus dilakukan oleh seorang hamba, maka akan terus
bertumpuk pada dirinya dan akhirnya menjadi dosa besar yang akan
membinasakannya. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إِيَّاكُمْ
وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوْبِ، فَإِنَّهُنَّ
يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى
يُهْلِكْنَهُ
“Hati-hati
kalian dari dosa-dosa yang dianggap remeh, karena dosa-dosa tersebut
akan terkumpul pada diri seseorang sampai akhirnya bisa
membinasakannya.” (HR.
Ahmad, ath-Thabarani)
Demikianlah
ajaran Islam yang penuh rahmat. Dosa apapun akan terampuni dengan
taubat. Namun jangan sekali-kali menganggap enteng perbuatan maksiat.
Bersegeralah mengingat Allah dan beramal kebajikan sebelum terlambat.
Semoga Allah memberikan kepada kita kebahagiaan hidup di dunia dan
akhirat. Kabulkanlah permohonan kami Yaa
Kariim, Yaa Mujiibad da’awaat.
يأأيها الناس قد جاءتكم موعظة من ربكم وشفاء لما في الصدور وهدى ورحمة للمؤمنين (57) قل بفضل الله وبرحمته فبذلك فليفرحوا هو خير مما يجمعون (58)
57.
Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari
Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada
dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
58.
Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah
dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah
lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".
Makna
kata-kata penting:
Mau`izhah
( موعظة
) =
pelajaran (nasehat) dari Allah, rambu-rambu yang menghalangimu dari
kejahatan .
Wa`azha
وعظ))
= menasehati , memperingatkan.
Syifaa’
( شفاء
) = obat.
Hudaa
( هدى
) = bayaan wa
irsyaad, atau penjelasan dan petunjuk.
Fadlillah
( فضل
الله )
= nikmat Allah.
Fariha-Yafrahu
( فرح
يفرح )
= lawan dari hazina-yahzanu ( sedih ).
Al
Farah ( الفرح
) = as-suruur =
gembira.
.
Menurut
penafisran Ibnu Katsir, bahwa yang dimaksud dari ayat di atas adalah:
يَاأَيُّهَاالنَّاسُ
قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ
رَبِّكُمْ
Maksud
penggalan ayat ini adalah “pencegah kekejian”.
وَشِفَاءٌ لِما في الصّدُوْرِ
Maksudnya
adalah dari kesamaran-kesamaran dan keragu-raguan, yaitu
menghilangkan kekejian dan kotoran yang ada di dalamnya
وَهُدَى
وَرَحْحةٌ لِلْمُؤْمِنين
Maksudnya
hidayah dan rahmat dari Allah Ta`ala dapat dihasilkan dengan adanya
Al Qur’an itu. Dan sesungguhnya hidayah dan rahmat itu hanyalah
untuk orang-orang yang beriman kepadanya, membenarkan dan meyakini
apa yang ada di dalamnya, sebagaimana firman Nya:
ونُنَزِّلُ
مِنَ القُرْآنِ ما هُوَ شِفَاءٌ وَرحْمَةٌ
لِلْمُؤْمِنين ولاَ يَزيْدُ الظّالمين
إلاّ خسارًا
“ Dan Kami turunkan dari Al Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian” (QS Al-Isra’: 82)
قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذلِكَ
“Katakanlah : “Dengan karunia Allah dan rahmat Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira”. Maksudnya, dengan petunjuk dan agama yang benar, yang datang dari sisi Allah ini hendaklah mereka bergembira, karena sesungguhnya jal itu
yang patut mereka baggakan.
فلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِمّا يَجْمَعُونَ
“Karena
Allah dan rahmat Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka
kumpulkan”, maksudnya,
dari harta duniawi dan apa yang ada di dalamnya, berupa keindahan
yang akan rusak dan pasti hilang.
sumber: http://kucintaquran.blogspot.com/2013/01/jangan-putus-harapan-dari-meraih.html
http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2276344-memahami-rahmat-allah-swt/
0 komentar:
Posting Komentar